PACARAN....? CEWEKLAH YANG DIRUGIKAN !!
Sebenarnya apa untungnya pacaran bagi wanita?
Ini bukan pertanyaan kepada laki-laki sebab ia lebih sebagai KONSUMEN belaka.
Betapa tidak, barang 'yang tersimpan' dengan baik itu pastilah
'orisinil' dan itu adalah paling berharga bagi laki-laki yang baik,
bahkan laki-laki buruk juga menginginkan itu !!!!
Lalu, karena godaan nafsu; uang, jabatan, harta, reputasi, cita-cita,
dia yang suci itu rela sedikit demi sedikit melepaskan kesuciannya;
mulai dari kerudung hingga kepada yang paling berharga, mahkotanya
'keperawanan.'
Setelah hilangnya 'mahkota' dia menjadi liar dan sebaliknya bukan dicari tetapi MENCARI.....
Dia hanya mau mempermainkan setelah dipermainkan dan tidak berani
serius lagi sebab tidak akan ada yang mau kecuali.... Menyesal....
Itulah kata akhir yang akan menemani hidupnya......
Jelas sekali bahwa wanitalah pihak yang dirugikan dari berpacaran, lalu mengapa kita ragu untuk meninggalkanya?
Atau ada yang berkilah “kita kita masih dalam taraf wajar kok pacaranya...”
larangan Allah sudah jelas,
mendekati saja tidak boleh alias berpacaran.
“congratulations to you” alias selamat buat kalian yang belum pernah
mencicipi pacaran, kalian harus bangga karena sudah bisa menjaga
kehormatan kalian, jangan khawatir
dicap “gak laku” karena memang kebaikan itu selalu dihiasi keburukan oleh syetan,
dan yang sudah terlanjur nyelup, alias masuk kedalam kubungan cinta
palsu, meka bergegaslah untuk menarik dari ‘peredaran’ nafsu syahwat dan
jangan sekali-kali dirimu tergoda atau sekedar "tengok-tengok" , karena
engkaulah yang akan mendapat kerugiannya.
Mungkin ada diantara kita yang Orangtuanya bangga anak perempuannya pacaran.
Mungkin mereka belum sadar, bahwa ketika pacaran, sebenarnya anak perempuannya sedang "dipinjam"
Naaah, maukah orangtua meminjamkan anaknya yang akan dipulangkan dalam
keadaan hancur, Orangtua mana yang tidak akan Hancur hatinya ?
Maaf Pak, Bu, kalau sudah begini, masih bangga kalau anaknya jadi ”Barang Pinjaman ” ?
Rangkuman Harian
Minggu, 11 Mei 2014
Makalah Bahasa Indonesia
PENALARAN SEBAGI METODE BEEPIKIR ILMIAH DAN LOGIS
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Dalam
keseharian kita mesti dituntut untuk selalu berpikir yang logis dan ilmiah
tidak mengarang, apabila dalam melakukan suatu tindakan kita harus memakai
penalaran yang sesuai. Yang disesuaikan dengan factor usia, penalaran
anak-anak,remaja,orang dewasa bahkan lansia itu berbeda. Proses berpikir logis
akan menghasilkan hubungan sampai dengan simpulan.
Dalam
menganalis pernyataanpun untuk memperoleh kesimpulan, juga dalam membandingkan
dua hal yang memiliki sifat atau arti yang sama, dan apabila salah nalar
disebabkan ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya, maka dari itu
penalaran metode berpikir yang ilmiah dan logis perlu dalam menentukan
kepastian.
Kesalahan
dalam menentukan kesimpulan tidak hanya ditentukan oleh kekeliruan cara
bernalar, tetapi dari data yang diperoleh itu tidak benar. Maka sebelum
menentukan kesimpulan kita harus memperhatikan data nya terlebih dahulu.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas pokok yang dibahas dalam makalah ini adalah pernalaran
yang ada disekitar lingkungan. Adapun rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Apa pengertian Penalaran ?
2.
Bagaimana membedakan penalaran
?
3.
Apa jenis-jenis penalaran ?
4.
Bagaimana membuat suatu
simpulan ?
5.
Bagaimana menghadapi salah
nalar ?
C.
Sistematika Penulisan Makalah
Makalah
ini ditulis ke dalam 3 bagian meliputi :
BAB I, Pendahuluan yang terdiri dari :
Latar belakang masalah, perumusan
masalah, Sistematika penulisan makalah, dan Tujuan penulisan makalah;
BAB
II, Pembahasan;
BAB
III, Penutup.
D.
Tujuan Penulisan Makalah
1.
Untuk mengetahui pengertian penalaran.
2.
Untuk mengetahui jenis-jenis penalaran.
3.
Untuk mengetahui perbedaan penalaran.
4.
Membuat
kesimpulan dari suatu data.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENALARAN
1.
Pengertian Penalaran
Penalaran
adalah suatu proses berpikir untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang
ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Supaya kesimpulan itu benar, cara
kita menghubung-hubungkan data tidak boleh sembarangan. Kita harus melakukannya
secara cermat dengan berdasarkan pikiran yang logis. Penalaran yang salah akan
menuntut kita kepada kesimpulan atau pendapat yang salah.
Kesalahan
membuat kesimpulan tidak hanya ditentukan oleh kekeliruan dalam cara bernalar,
tetapi dapat pula oleh datanya yang tidak benar. Oleh karena itu, sebelum
melakukan penalaran, perlu diketahui benar tidaknya data yang akan disimpulkan
itu.[1]
Dalam
penalaran ada 2 istilah yang harus dipahami, yaitu Proposisi dan Term.
Term adalah kata atau kelompok yang dijadikan subjek atau
predikat dalam sebuah proposisi, Sedangkan
Proposisi adalah
pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara subjek dan predikat. Dengan
kata lain, proposisi
adalah pernyataan lengkap dalam bentuk subjek-predikat yang berbentuk
kalimat berita yang netral.
Contoh
: Semua
Cabai Pedas (Proposisi)
Semua Cabai (Term)
Pedas (Term)
Penalaran
Memerlukan data sebagai fakta dan data inilah yang akan menjadi unsur dasar
penalaran.[2]
2.
Mendeskripsikan Jenis-jenis
Penalaran
Penalaran
terbagi ke dalam dua macam, yakni Deduktif dan Induktif. Penalaran Deduktif
dilakukan terhadap data (Pernyataan) umum untuk kemudian ditarik kesimpulan
yang khusus.
Yang
perlu kita kemukakan dalam penalaran Deduktif, ada pernyataan umum sebagai
data. Berdasarkan pernyataan itulah kita menarik kesimpulan. Pernyataan yang
mendasari suatu kesimpulan disebut Premis.
Perhatikan
Contoh berikut !
Premis
: Bujur sangkar merupakan segi
empat yang panjang
Keempat sisinya sama dan
besar tiap sudutnya 90 derajat.
Kesimpulan :
1. Setiap bujur sangkar pasti segi empat, tetapi tidak
Setiap segi
empat merupakan bujur sangkar.
2. Segi empat bukan
bujur sangkar jika tidak setiap
Sudutnya 90
derajat.
Penalaran Induktif dilakukan terhadap peristiwa-peristiwa
khusus, untuk kemudian dirumuskan sebuah kesimpulan, yang mencakup semua
peristiwa-peristiwa khusus itu.
Contoh :
Setelah karangan anak-anak
kelas tiga diperiksa, ternyata Ali,Toto,Alex, dan Burhan, mendapat nilai 8.
Anak-anak yang lain mendapat nilai 7. Hanya Maman yang 6 dan tidak seorangpun
mendapat nilai kurang. Oleh karena itu, boleh dikatakan anak-anak kelas tiga
cukup pandai mengarang.
Penjelasan :
1.
Perolehan nilai
Ali,Tota,Alex,Burhan,Maman,dan anak-anak yang lain, merupakan peristiwa khusus.
2.
Peristiwa
khusus itu kita hubung-hubungkan denagn penalaran yang logis.
3.
Kesimpulan
atau pendapat yang kita peroleh adalah bahwa anak kelas Tiga boleh dikatakan
cukup pandai mengarang.[3]
3.
Membedakan Penalaran
Penalaran
Deduktif, cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik
kesimpulan yang bersifat khusus.
Penalaran
Induktif, penalaran yang bertolak dari
pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.[4]
B.
DEDUKTIF
1.
Pengertian Deduktif
Penalaran
deduktif merupakan penalaran yang berdasarkan prinsip, hukum, teori atau
putusan yang berlaku untuk suatu hal atau gejala. Penalaran deduktif bergerak
dari suatu yang umum kepada yang khusus.[5]
2.
Macam-macam penalaran Deduktif
Penalaran
Deduktif ada tiga macam, antara lain :
1.
Silogisme
Silogisme
disebut juga penalaran deduktif secara tidak langsung. Silogisme memerlukan dua
premis sebagai data. Premis yang pertama disebut premis umum(PU) dan premis
yang kedua disebut premis khusus(PK). Dari kedua premis tersebut ,
kesimpulan(K) itu dirumuskan.
2.
Entimen
Entimen
merupakan penalaran deduktif secara langsung. Dalam hal ini kesimpulan
dirumuskan hanya berdasarkan satu premis. Oleh karena itu, entimen disebut juga
sebagai silogisme yang diperpendek.
3.
Deduktif yang
salah
Deduktif yang
salah dapat disebabkan
oleh :
a.
Kesalahan dalam membuat
kesimpulan dan
b.
Premisnya tidak memenuhi
syarat,misalnya karena semua premis itu negative atau semuanya merupakan premis
khusus.
3.
Contoh Kalimat Penalaran
Deduktif
Ø
Silogisme
PU : Binatang menyusui melahirkan dan tidak
bertelur.
PK : Ikan paus binatang menyusui.
K :
Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur.
Ø
Entimen
Perhatikan
perbandingan berikut :
a.
Silogisme
PU : Hakim yang baik tidak menerima uang
suap
PK : Ny.Hanny hakim yang baik
K :
Ny.Hanny tidak menerima uang suap.
b.
Entimen
Ny.Hanny tidak mau menerima uang suap
karena ia hakim yang baik.
Dalam
contoh diatas, kita memulainya dengan silogisme. Kemudian, memperolehnya dan
jadilah sebuah entimen. Demikian pula sebaliknya, sebuah entimen dapat kita
ubah menjadi silogisme.
a. Entimen
Rina harus bekerja keras dan rajin berdoa
karena ia ingin hidup sukses.
b. PU
: Semua orang yang ingin hidup sukses bekerja keras dan rajin
Berdoa.
PK : Rina ingin hidup sukses.
K :
Rina harus bekerja keras dan rajin
berdoa.[6]
Ø
Salah Nalar Deduktif
PU : Socrates adalah manusia
PK : Semua manusia akan mati
K :
Socrates juga akan mati
C.
INDUKTIF
1.
Pengertian Induktif
Penalaran
Induktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus
untuk menghasilkan keputusan, prinsip,atau sikap yang bersifat umum.[7]
2.
Macam-macam penalaran Induktif
Penalaran
Induktif ada tiga macam, antara lain :
v
Generalisasi
Generalisasi
merupakan salah satu jenis penalaran induksi, di samping analogi dan hubungan
kausalitas. Generalisasi adalah proses penalran yang menggunakan beberapa
pernyataan yang mempunyai cirri-ciri tertentu untuk mendapatkan kesimpulan yang
bersifat umum.
v
Analogi
Analogi
adalah cara bernalar dengan membandingkan dau hal yang memiliki sifat sama.
Cara ini didasarkan asumsi bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi,
maka akan ada persamaan pula dalam bidang yang lain.
v
Hubungan Kausal
Hubungan
kausal adalah cara penalaran yang diperoleh dari peristiwa-peristiwa yang
memilki pola hubungan sebab-akibat.
3.
Contoh kalimat penalaran
Induktif
Ø
Generalisasi
Contoh
:
Jika
dipanaskan, besi memuai.
Jika
dipanaskan, tembaga memuai.
Jika
dipanaskan, emas memuai.
Jadi,Jika
dipanaskan, semua logam akan memuai.
Sahih-tidaknya sebuah
generalisasi, ditentukan oleh hal-hal berikut.
a.
Data atau peristiwa khusus yang
akan disimpulkan harus memadai jumlahnya. Semakin banyak data yang dikumpulkan,
makin sahih kesimpulan yang diperoleh.
b.
Data yang ada harus mewakili
keseluruhan peristiwa.
c.
Pengecualian perlu
diperhitungkan karena peristiwa yang mempunyai sifat khusus tidak dapat
dijadikan data.
Contoh
generalisasi yang tidak sahih :
·
Orang Afganistan suka perang.
·
Hujan dapat menyebabkan orang sakit kepala.
·
Masyarakat Indonesia tidak suka bekerja keras.
Kesalahan
yang terjadi pada ketiga kesimpulan diatas disebabkanoleh generalisasi yang
terlalu luas dengan tidak memperhitungkan pengecualian-pengecualian yang ada.
Ø
Analogi
Penalaran
secara analogi memiliki peluang untuk salah apabila kita beranggapan bahwa
persamaan satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi-segi yang
lain.
Contoh :
Arief
seorang alumni SMUN 1 Tegal dapat diterima kerja diperusahaan Pak Subur. Oleh
karena itu, Nani yang juga lulusan SMUN 1 Tegal pasti pula diterima kerja
diperusahaan Pak Subur.
Ø
Hubungan Kausal
Ada tiga pola hubungan
kausalitas, yaitu :
a.
Sebab
Akibat
Penalaran
ini berawal dari peristiwa yang merupakan sebab, kemudian sampai pada
kesimpulan sebagai akibatnya. Polanya adalah A mengakibatkan B.
Contoh :
Era
Reformasi tahun pertama dan tahun kedua ternyata membuahkan hasil yang
membesarkan hati. Pertanian,perdagaan, dan Industri. Dapat direhabilitasi dan
dikendalikan. Produksi nasional meningkat. Ekspor kayu dan naiknya harga minyak
bumi dalam pasaran dunia mengahasilkan devisa bermilyar dolat AS bagi kas
Negara. Dengan demikian, kedudukan rupiah menjadi kian mantap. Ekonomi
indonesia semakin mantap sekarang ini. Oleh karena itu tidak mengherankan
apabila mulai tahun ketiga. Era Reformasi ini Indonesia sudah sanggup menerima
pinjaman luar negeri dengan syarat yang kurang lunak untuk membiayai
pembangunan.
Hal
penting yang perlu kita perhatikan dalam membuat kesimpulan pola sebab-akibat,
adalah kecermatan dalam menganalisis peristiwa atau factor penyebab. Secara
hubungan kausal adlah beberapa kemungkinan penyebab.
b.
Akibat
sebab
Dalam
pola ini kita memulai dengan peristiwa yang menjadi akibat. Peristiwa itu
kemudian kita analisis untuk mencari penyebabnya.
Contoh :
Kemarin
Badu tidak masuk kantor. Hari ini pun tidak pagi tadi istrinya pergi ke apotek
membeli obat. Karena itu, pasti Badu itu sedang sakit.
c.
Sebab
Akibat-1 Akibat-2
Suatu
penyebab dapat menimbulkan serangkain akibat. Akibat pertama berubah menjadi
Sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianlah seterusnya, hingga timbul
rangkaian beberapa akibat.
Contoh
:
Mulai
tanggal 17 Januari 2002, harga bebagai jenis minyak bumi dalam negeri naik.
Minyak tanah, premium, solar, dan lain-lain dinaikkan harganya. Hal ini karena
pemerintah ingin mengurangi subsidi dengan harapan supaya ekonomi Indonesia
kembali berlangsung normal. Karena bahan bakar naik, sudah barang tentu biaya angkutan
pun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang-barang pasti akan
ikut naik karena biaya tambahan untuk transportasi harus diperhitungkan.
Naiknya harga barang-barang akan dirasakan berat oleh rakyat. Oleh karena itu,
kenaikan harga barang harus diimbangi dengan usaha menaikkan pendapatan
masyarakat.[8]
Ø
Salah Nalar Induktif
·
Tamara bleszynski adalah bintang iklan, dan ia
berparas cantik .
·
Nia ramadhani adalah bintang iklan, dan ia
berparas cantik.
Generalisasi
: Semua bintang iklan berparas cantik .
Pernyataan
“semua bintang iklan berparas cantik”
hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki
kebenarannya.
Contoh kesalahannya :
Omas juga
bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.[9]
BAB III
PENUTUP
Penalaran merupakan salah satu
untuk membuat suatu pernyataan dari suatu data yang ada. Juga sebagai proses
berpikir untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehinnga samapi
pada suatu kesimpulan. Maka kita akan mendapatkan dari suatu data tersebut
secara benar.
Penalaran dibagi menjadi dua
yaitu, penalaran Deduktif dan Induktif. Penalaran Deduktif adalah dari
pernyataan secara umum menjadi kesimpulan yang khusus. Penalaran Induktif
adalah peristiwa-peristiwa khusus untuk dirumuskan sebuah kesimpulan.
Penalaran Deduktif ada tiga macam yaitu : Silogisme,Entimen dan
Deduktif yang salah. Penalaran Induktif ada tiga macam yaitu :
Generalisasi,Analogi dan Hubungan Klausal.
Maka dalam menentukan sebuah
kesimpulan kita harus mendapatkan data
yang benar. Dan harus mengetahui betul dari umum ke khusus atau sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
Hardini, Isriani. “Penalaran sebagai metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out
Mata kuliah Bahasa Indonesia.
Kosasih,
E. 2002 . Kompetensi Ketatabahasaan :
Cermat berbahasa
Indonesia.
Bandung : CV.Yrama Widya.
Sumber Lain :
Vincentia. “Penalaran adalah suatu prose
berpikir”.
http://vincentiawhy.blogspot.com/2010/05/penalaran-adalah-suatu-proses- berpikir), diakses 24 April
2014.
[1] E. Kosasih, Kompetensi Ketatabahasaan
: Cermat Berbahasa Indonesia, (Bandung : CV. Yrama Widya,2002),hlm.73.
[2] Isriani Hardini, “Penalaran sebagai metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out Mata kuliah Bahasa Indonesia.
[3] E.Kosasih, Op.cit., hlm 73-77.
[4] Vincentia, “Penalaran adalah suatu proses
berpikir”, (http://vincentiawhy.blogspot.com/2010/05/penalaran-adalah-suatu-proses-berpikir), diakses 24 April 2014.
[5] Isriani Hardini, “Penalaran sebagai metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out Mata kuliah Bahasa Indonesia.
[6] E.Kosasih, Op.cit., hlm 75-76.
[7] Isriani Hardini, “Penalaran sebagai metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out Mata kuliah Bahasa Indonesia.
[8] E.Kosasih, Op.cit., hlm. 78-81.
[9] Isriani Hardini, “Penalaran sebagai metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out Mata kuliah Bahasa Indonesia.
Langganan:
Komentar (Atom)