Minggu, 11 Mei 2014

KEMBANG ANGGREK

PACARAN....? CEWEKLAH YANG DIRUGIKAN !!
Sebenarnya apa untungnya pacaran bagi wanita?
Ini bukan pertanyaan kepada laki-laki sebab ia lebih sebagai KONSUMEN belaka.
Betapa tidak, barang 'yang tersimpan' dengan baik itu pastilah 'orisinil' dan itu adalah paling berharga bagi laki-laki yang baik, bahkan laki-laki buruk juga menginginkan itu !!!!

Lalu, karena godaan nafsu; uang, jabatan, harta, reputasi, cita-cita, dia yang suci itu rela sedikit demi sedikit melepaskan kesuciannya; mulai dari kerudung hingga kepada yang paling berharga, mahkotanya 'keperawanan.'
Setelah hilangnya 'mahkota' dia menjadi liar dan sebaliknya bukan dicari tetapi MENCARI.....
Dia hanya mau mempermainkan setelah dipermainkan dan tidak berani serius lagi sebab tidak akan ada yang mau kecuali.... Menyesal....
Itulah kata akhir yang akan menemani hidupnya......
Jelas sekali bahwa wanitalah pihak yang dirugikan dari berpacaran, lalu mengapa kita ragu untuk meninggalkanya?
Atau ada yang berkilah “kita kita masih dalam taraf wajar kok pacaranya...”
larangan Allah sudah jelas,
mendekati saja tidak boleh alias berpacaran.
“congratulations to you” alias selamat buat kalian yang belum pernah mencicipi pacaran, kalian harus bangga karena sudah bisa menjaga kehormatan kalian, jangan khawatir
dicap “gak laku” karena memang kebaikan itu selalu dihiasi keburukan oleh syetan,
dan yang sudah terlanjur nyelup, alias masuk kedalam kubungan cinta palsu, meka bergegaslah untuk menarik dari ‘peredaran’ nafsu syahwat dan jangan sekali-kali dirimu tergoda atau sekedar "tengok-tengok" , karena engkaulah yang akan mendapat kerugiannya.
Mungkin ada diantara kita yang Orangtuanya bangga anak perempuannya pacaran.
Mungkin mereka belum sadar, bahwa ketika pacaran, sebenarnya anak perempuannya sedang "dipinjam"
Naaah, maukah orangtua meminjamkan anaknya yang akan dipulangkan dalam keadaan hancur, Orangtua mana yang tidak akan Hancur hatinya ?
Maaf Pak, Bu, kalau sudah begini, masih bangga kalau anaknya jadi ”Barang Pinjaman ” ?

Makalah Bahasa Indonesia


PENALARAN SEBAGI METODE BEEPIKIR ILMIAH DAN LOGIS 

BAB  I
PENDAHULUAN
A.                                                                               Latar  Belakang Masalah
Dalam keseharian kita mesti dituntut untuk selalu berpikir yang logis dan ilmiah tidak mengarang, apabila dalam melakukan suatu tindakan kita harus memakai penalaran yang sesuai. Yang disesuaikan dengan factor usia, penalaran anak-anak,remaja,orang dewasa bahkan lansia itu berbeda. Proses berpikir logis akan menghasilkan hubungan sampai dengan simpulan.
Dalam menganalis pernyataanpun untuk memperoleh kesimpulan, juga dalam membandingkan dua hal yang memiliki sifat atau arti yang sama, dan apabila salah nalar disebabkan ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya, maka dari itu penalaran metode berpikir yang ilmiah dan logis perlu dalam menentukan kepastian.
Kesalahan dalam menentukan kesimpulan tidak hanya ditentukan oleh kekeliruan cara bernalar, tetapi dari data yang diperoleh itu tidak benar. Maka sebelum menentukan kesimpulan kita harus memperhatikan data nya terlebih dahulu.

B.                                                                                Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas pokok yang dibahas dalam makalah ini adalah pernalaran yang ada disekitar lingkungan. Adapun rumusan masalah sebagai berikut :
1.                                                         Apa pengertian Penalaran ?
2.                                                         Bagaimana membedakan penalaran ?
3.                                                         Apa jenis-jenis penalaran ?
4.                                                         Bagaimana membuat suatu simpulan ?
5.                                                         Bagaimana menghadapi salah nalar ?
                                                                                                               
C.                                                                                Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini ditulis ke dalam 3 bagian meliputi :

BAB I, Pendahuluan yang terdiri dari : Latar belakang masalah,   perumusan masalah, Sistematika penulisan makalah, dan Tujuan penulisan makalah;
BAB II, Pembahasan;
BAB III, Penutup.

D.                                                                               Tujuan Penulisan Makalah
1.                                                                     Untuk mengetahui pengertian penalaran.
2.                                                                     Untuk mengetahui jenis-jenis penalaran.
3.                                                                     Untuk mengetahui perbedaan penalaran.
4.                                                                     Membuat  kesimpulan dari suatu data.






                                                                                                                                              





BAB  II
PEMBAHASAN
A.                                                                                                                                                                                           PENALARAN
1.                                                                                                                                                                     Pengertian Penalaran
Penalaran adalah suatu proses berpikir untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Supaya kesimpulan itu benar, cara kita menghubung-hubungkan data tidak boleh sembarangan. Kita harus melakukannya secara cermat dengan berdasarkan pikiran yang logis. Penalaran yang salah akan menuntut kita kepada kesimpulan atau pendapat yang salah.
Kesalahan membuat kesimpulan tidak hanya ditentukan oleh kekeliruan dalam cara bernalar, tetapi dapat pula oleh datanya yang tidak benar. Oleh karena itu, sebelum melakukan penalaran, perlu diketahui benar tidaknya data yang akan disimpulkan itu.[1]
Dalam penalaran ada 2 istilah yang harus dipahami, yaitu  Proposisi dan Term. Term adalah kata atau kelompok yang dijadikan subjek atau predikat dalam sebuah proposisi, Sedangkan  Proposisi  adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara subjek dan predikat. Dengan kata lain, proposisi  adalah pernyataan lengkap dalam bentuk subjek-predikat yang berbentuk kalimat berita yang netral.

Contoh :     Semua Cabai Pedas  (Proposisi)
                    Semua Cabai        (Term)
                    Pedas                    (Term)
Penalaran Memerlukan data sebagai fakta dan data inilah yang akan menjadi unsur dasar penalaran.[2]
                                                                               
2.                                                                                                                                                                     Mendeskripsikan Jenis-jenis Penalaran
Penalaran terbagi ke dalam dua macam, yakni Deduktif dan Induktif. Penalaran Deduktif dilakukan terhadap data (Pernyataan) umum untuk kemudian ditarik kesimpulan yang khusus.
Yang perlu kita kemukakan dalam penalaran Deduktif, ada pernyataan umum sebagai data. Berdasarkan pernyataan itulah kita menarik kesimpulan. Pernyataan yang mendasari suatu kesimpulan disebut Premis.
Perhatikan Contoh berikut !
Premis       :  Bujur sangkar merupakan segi empat yang panjang
                      Keempat sisinya sama dan besar tiap sudutnya 90 derajat.                      
Kesimpulan     :   1. Setiap bujur sangkar pasti segi empat, tetapi tidak
                                 Setiap segi empat merupakan bujur sangkar.
                            2. Segi empat bukan bujur sangkar jika tidak setiap
                                  Sudutnya 90 derajat.
Penalaran Induktif  dilakukan terhadap peristiwa-peristiwa khusus, untuk kemudian dirumuskan sebuah kesimpulan, yang mencakup semua peristiwa-peristiwa khusus itu.
            Contoh :
Setelah karangan anak-anak kelas tiga diperiksa, ternyata Ali,Toto,Alex, dan Burhan, mendapat nilai 8. Anak-anak yang lain mendapat nilai 7. Hanya Maman yang 6 dan tidak seorangpun mendapat nilai kurang. Oleh karena itu, boleh dikatakan anak-anak kelas tiga cukup pandai mengarang. 
            Penjelasan :
1.                                                                                                                                                                      Perolehan nilai Ali,Tota,Alex,Burhan,Maman,dan anak-anak yang lain, merupakan peristiwa khusus.
2.                                                                                                                                                                      Peristiwa khusus itu kita hubung-hubungkan denagn penalaran yang logis.                                                  
3.                                                                                                                                                                      Kesimpulan atau pendapat yang kita peroleh adalah bahwa anak kelas Tiga boleh dikatakan cukup pandai mengarang.[3]           

3.                                                                                                                                                                     Membedakan Penalaran
Penalaran Deduktif, cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.
Penalaran Induktif,  penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum.[4]

B.                                                                                                                                                                                            DEDUKTIF
1.                                                                                                                                                                     Pengertian Deduktif
Penalaran deduktif merupakan penalaran yang berdasarkan prinsip, hukum, teori atau putusan yang berlaku untuk suatu hal atau gejala. Penalaran deduktif bergerak dari suatu yang umum kepada yang khusus.[5]
2.                                                                                                                                                                     Macam-macam penalaran Deduktif
Penalaran Deduktif ada tiga macam, antara lain :
1.                                                                                                                                                                                             Silogisme
Silogisme disebut juga penalaran deduktif secara tidak langsung. Silogisme memerlukan dua premis sebagai data. Premis yang pertama disebut premis umum(PU) dan premis yang kedua disebut premis khusus(PK). Dari kedua premis tersebut , kesimpulan(K) itu dirumuskan.

2.                                                                                                                                                                                             Entimen
Entimen merupakan penalaran deduktif secara langsung. Dalam hal ini kesimpulan dirumuskan hanya berdasarkan satu premis. Oleh karena itu, entimen disebut juga sebagai silogisme yang diperpendek.
3.                                                                                                                                                                                             Deduktif  yang  salah
Deduktif  yang  salah  dapat  disebabkan  oleh :
a.                                                                                                                                                                                  Kesalahan dalam membuat kesimpulan dan
b.                                                                                                                                                                                 Premisnya tidak memenuhi syarat,misalnya karena semua premis itu negative atau semuanya merupakan premis khusus.

3.                                                                                                                                                                     Contoh Kalimat Penalaran Deduktif
Ø                                                                                                                                             Silogisme
PU : Binatang menyusui melahirkan dan tidak bertelur.
PK : Ikan paus binatang menyusui.                  
K   : Ikan paus melahirkan anak dan tidak bertelur.
Ø                                                                                                                                             Entimen
Perhatikan perbandingan berikut :
a.                                                                                                                                                                    Silogisme
PU : Hakim yang baik tidak menerima uang suap
PK : Ny.Hanny hakim yang baik
K   : Ny.Hanny tidak menerima uang suap.
b.                                                                                                                                                                    Entimen
Ny.Hanny tidak mau menerima uang suap karena ia hakim yang baik.
Dalam contoh diatas, kita memulainya dengan silogisme. Kemudian, memperolehnya dan jadilah sebuah entimen. Demikian pula sebaliknya, sebuah entimen dapat kita ubah menjadi silogisme.    
a.     Entimen
Rina harus bekerja keras dan rajin berdoa karena ia ingin hidup sukses.
b.     PU : Semua orang yang ingin hidup sukses bekerja keras dan rajin
                                 Berdoa.                                     
PK : Rina ingin hidup sukses.
K   : Rina  harus bekerja keras dan rajin berdoa.[6]

Ø      Salah Nalar Deduktif
PU : Socrates adalah manusia
PK : Semua manusia akan mati
K   : Socrates juga akan mati

C.                                                                                                                                                                                            INDUKTIF
1.                                                                                                                                                                     Pengertian Induktif
Penalaran Induktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus untuk menghasilkan keputusan, prinsip,atau sikap yang bersifat umum.[7]
2.                                                                                                                                                                     Macam-macam penalaran Induktif
Penalaran Induktif ada tiga macam, antara lain :
v                                                                                                                                            Generalisasi
Generalisasi merupakan salah satu jenis penalaran induksi, di samping analogi dan hubungan kausalitas. Generalisasi adalah proses penalran yang menggunakan beberapa pernyataan yang mempunyai cirri-ciri tertentu untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat umum.

v                                                                                                                                            Analogi
Analogi adalah cara bernalar dengan membandingkan dau hal yang memiliki sifat sama. Cara ini didasarkan asumsi bahwa jika sudah ada persamaan dalam berbagai segi, maka akan ada persamaan pula dalam bidang yang lain.


v                                                                                                                                            Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah cara penalaran yang diperoleh dari peristiwa-peristiwa yang memilki pola hubungan sebab-akibat.

3.                                                                                                                                                                     Contoh kalimat penalaran Induktif
Ø                                                                                                                                             Generalisasi
Contoh :
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan, emas memuai.
Jadi,Jika dipanaskan, semua logam akan memuai.
             Sahih-tidaknya sebuah generalisasi, ditentukan oleh hal-hal berikut.
a.                                                                                                                                                                                              Data atau peristiwa khusus yang akan disimpulkan harus memadai jumlahnya. Semakin banyak data yang dikumpulkan, makin sahih kesimpulan yang diperoleh.
b.                                                                                                                                                                                             Data yang ada harus mewakili keseluruhan peristiwa.
c.                                                                                                                                                                                              Pengecualian perlu diperhitungkan karena peristiwa yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.      
 Contoh generalisasi yang tidak sahih :
·                                                                                                                                                                        Orang Afganistan suka perang.
·                                                                                                                                                                        Hujan dapat menyebabkan orang sakit kepala.
·                                                                                                                                                                        Masyarakat Indonesia tidak suka bekerja keras.
Kesalahan yang terjadi pada ketiga kesimpulan diatas disebabkanoleh generalisasi yang terlalu luas dengan tidak memperhitungkan pengecualian-pengecualian yang ada.

Ø                                                                                                                                            Analogi
Penalaran secara analogi memiliki peluang untuk salah apabila kita beranggapan bahwa persamaan satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi-segi yang lain.
Contoh :
Arief seorang alumni SMUN 1 Tegal dapat diterima kerja diperusahaan Pak Subur. Oleh karena itu, Nani yang juga lulusan SMUN 1 Tegal pasti pula diterima kerja diperusahaan Pak Subur.

Ø                                                                                                                                            Hubungan Kausal
                 Ada tiga pola hubungan kausalitas, yaitu :
a.                                                                                                                                                                        Sebab Akibat
Penalaran ini berawal dari peristiwa yang merupakan sebab, kemudian sampai pada kesimpulan sebagai akibatnya. Polanya adalah A mengakibatkan B.
Contoh :
Era Reformasi tahun pertama dan tahun kedua ternyata membuahkan hasil yang membesarkan hati. Pertanian,perdagaan, dan Industri. Dapat direhabilitasi dan dikendalikan. Produksi nasional meningkat. Ekspor kayu dan naiknya harga minyak bumi dalam pasaran dunia mengahasilkan devisa bermilyar dolat AS bagi kas Negara. Dengan demikian, kedudukan rupiah menjadi kian mantap. Ekonomi indonesia semakin mantap sekarang ini. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila mulai tahun ketiga. Era Reformasi ini Indonesia sudah sanggup menerima pinjaman luar negeri dengan syarat yang kurang lunak untuk membiayai pembangunan. 


Hal penting yang perlu kita perhatikan dalam membuat kesimpulan pola sebab-akibat, adalah kecermatan dalam menganalisis peristiwa atau factor penyebab. Secara hubungan kausal adlah beberapa kemungkinan penyebab.

b.                                                                                                                                                                        Akibat sebab
Dalam pola ini kita memulai dengan peristiwa yang menjadi akibat. Peristiwa itu kemudian kita analisis untuk mencari penyebabnya.
Contoh :
Kemarin Badu tidak masuk kantor. Hari ini pun tidak pagi tadi istrinya pergi ke apotek membeli obat. Karena itu, pasti Badu itu sedang sakit.
c.                                                                                                                                                                        Sebab Akibat-1 Akibat-2
Suatu penyebab dapat menimbulkan serangkain akibat. Akibat pertama berubah menjadi Sebab yang menimbulkan akibat kedua. Demikianlah seterusnya, hingga timbul rangkaian beberapa akibat.
Contoh :
Mulai tanggal 17 Januari 2002, harga bebagai jenis minyak bumi dalam negeri naik. Minyak tanah, premium, solar, dan lain-lain dinaikkan harganya. Hal ini karena pemerintah ingin mengurangi subsidi dengan harapan supaya ekonomi Indonesia kembali berlangsung normal. Karena bahan bakar naik, sudah barang tentu biaya angkutan pun akan naik pula. Jika biaya angkutan naik, harga barang-barang pasti akan ikut naik karena biaya tambahan untuk transportasi harus diperhitungkan. Naiknya harga barang-barang akan dirasakan berat oleh rakyat. Oleh karena itu, kenaikan harga barang harus diimbangi dengan usaha menaikkan pendapatan masyarakat.[8]

Ø                                                                                                                                            Salah Nalar Induktif
·                                                                                                                                                                                                Tamara bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik .
·                                                                                                                                                                                                Nia ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.

Generalisasi : Semua bintang iklan berparas cantik .
Pernyataan “semua bintang iklan berparas cantik”  hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya :
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.[9]
                        











BAB  III
PENUTUP

Penalaran merupakan salah satu untuk membuat suatu pernyataan dari suatu data yang ada. Juga sebagai proses berpikir untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehinnga samapi pada suatu kesimpulan. Maka kita akan mendapatkan dari suatu data tersebut secara benar.
Penalaran dibagi menjadi dua yaitu, penalaran Deduktif dan Induktif. Penalaran Deduktif adalah dari pernyataan secara umum menjadi kesimpulan yang khusus. Penalaran Induktif adalah peristiwa-peristiwa khusus untuk dirumuskan sebuah kesimpulan.
Penalaran Deduktif  ada tiga macam yaitu : Silogisme,Entimen dan Deduktif yang salah. Penalaran Induktif ada tiga macam yaitu : Generalisasi,Analogi dan Hubungan Klausal.
Maka dalam menentukan sebuah kesimpulan kita harus  mendapatkan data yang benar. Dan harus mengetahui betul dari umum ke khusus atau sebaliknya.











DAFTAR PUSTAKA

   Hardini, Isriani. “Penalaran sebagai  metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out Mata kuliah Bahasa Indonesia.

Kosasih, E. 2002 . Kompetensi Ketatabahasaan : Cermat berbahasa           
Indonesia. Bandung : CV.Yrama Widya.

Sumber Lain :
Vincentia. “Penalaran adalah suatu prose berpikir”.




[1]  E. Kosasih, Kompetensi Ketatabahasaan : Cermat Berbahasa Indonesia, (Bandung : CV. Yrama Widya,2002),hlm.73.
[2]  Isriani Hardini, “Penalaran sebagai metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out  Mata kuliah Bahasa Indonesia.
[3]  E.Kosasih, Op.cit., hlm 73-77.
[4]   Vincentia, “Penalaran adalah suatu proses berpikir”, (http://vincentiawhy.blogspot.com/2010/05/penalaran-adalah-suatu-proses-berpikir), diakses 24 April 2014.
[5]  Isriani Hardini, “Penalaran sebagai metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out  Mata kuliah Bahasa Indonesia.
[6]  E.Kosasih, Op.cit., hlm 75-76.
[7]  Isriani Hardini, “Penalaran sebagai metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out  Mata kuliah Bahasa Indonesia.
[8] E.Kosasih, Op.cit., hlm. 78-81.
[9]  Isriani Hardini, “Penalaran sebagai metode berpikir Ilmiah dan Logis”.Hand out  Mata kuliah Bahasa Indonesia.